Ilustrasi anemia pada remaja: tablet tambah darah sudah dibagikan sejak 2015 namun hanya 1,4 persen yang dikonsumsi sesuai anjuran

Tablet Tambah Darah sudah dibagikan di sekolah-sekolah sejak 2015. Hampir sepuluh tahun berjalan, hasilnya belum sesuai harapan. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan 76,2 persen remaja putri pernah menerima TTD di sekolah, tetapi hanya 1,4 persen yang mengonsumsi sesuai anjuran. Artinya, sebagian besar tablet itu berakhir di laci tas, bukan di dalam tubuh.

Angka terbaru tidak banyak berubah. Hasil Cek Kesehatan Gratis yang dianalisis sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026 menemukan anemia pada 27 persen anak sekolah dan remaja. Karies gigi masih menempati urutan pertama dengan lebih dari 40 persen, lalu disusul anemia di posisi kedua. Ini bukan masalah kecil, karena anemia menyangkut kemampuan belajar, daya tahan tubuh, dan pada remaja putri menyangkut kesiapan mereka menjadi ibu di masa depan.

Anemia pada Remaja: Masalah yang Tidak Selalu Terlihat

Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah ambang normal. Hemoglobin bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadarnya rendah, organ tubuh bekerja dengan pasokan oksigen yang terbatas. Remaja yang mengalaminya sering merasa lemas, mengantuk, pusing, dan sulit berkonsentrasi. Kulit, bibir, dan kelopak mata bagian dalam tampak pucat. Jantung berdebar lebih cepat saat beraktivitas ringan, napas terasa pendek, dan tangan atau kaki terasa dingin.

Dokter umum Ernestin Salma Celalu menyebut kondisi ini dengan istilah 5L, yaitu letih, lemah, lesu, lunglai, dan lelah. Dalam penjelasan di program Zona Edukasi RRI Labuan Bajo pada September 2026, ia mengingatkan bahwa gejala anemia muncul perlahan sehingga sering dianggap sebagai akibat kurang tidur atau jadwal sekolah yang padat.

Remaja putri berada di posisi paling rentan. Setiap bulan mereka kehilangan darah saat menstruasi, sementara tubuh mereka masih dalam masa pertumbuhan yang menuntut asupan zat besi lebih besar. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi anemia pada usia 15 sampai 24 tahun sebesar 15,5 persen, dengan angka perempuan 18,0 persen dan laki-laki 14,4 persen.

Infografik anemia remaja: 27 persen anak sekolah anemia, 1,4 persen konsumsi TTD sesuai anjuran, 54,8 persen remaja putri belum dapat TTD
Infografik: anemia remaja dan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah. Sumber: Kemenkes RI, Survei Kesehatan Indonesia 2023.

Kenapa Tablet Tambah Darah Sering Tidak Diminum

Ada beberapa alasan yang saling berkaitan, dan semuanya bermuara pada satu hal: edukasi yang belum sampai.

Distribusi Bergantung pada Sekolah

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan TTD sama sekali. Dari yang mendapatkannya, 88,9 sampai 90,3 persen memperoleh tablet melalui jalur sekolah. Remaja yang sedang tidak bersekolah, putus sekolah, atau tinggal di daerah sulit dijangkau praktis kehilangan akses. Program yang bergantung pada satu pintu masuk akan selalu meninggalkan sebagian orang di luar.

Remaja Tidak Tahu Manfaatnya

Angka ini yang paling sering luput dibahas: 51,4 persen remaja putri tidak mengonsumsi TTD karena tidak mengetahui manfaatnya. Mereka tidak tahu bahwa tablet itu mencegah anemia, bukan mengobati penyakit. Sebagian menganggapnya sebagai obat yang hanya perlu diminum saat merasa sakit. Selama pemahaman ini tidak berubah, tablet yang dibagikan akan tetap dianggap barang asing.

Cerita dari lapangan menguatkan temuan itu. Aluna Kekey, seorang siswi sekaligus anggota Palang Merah Remaja, menyampaikan dalam diskusi publik pada 13 Agustus 2026 bahwa banyak temannya hanya menerima tablet lalu membuangnya. Alasannya sederhana dan jujur, mereka tidak melihat gunanya. Perwakilan Forum Anak Nasional dari Papua Tengah juga menyampaikan hal serupa, bahwa teman-teman di wilayah sulit terjangkau belum memahami apa itu CKG maupun pentingnya TTD.

Efek Samping yang Tidak Dijelaskan

TTD bisa menimbulkan mual, rasa pahit di lidah, dan bau amis yang menyengat. Bagi remaja yang tidak pernah diberi tahu cara mengatasinya, pengalaman pertama minum tablet ini cukup untuk membuat mereka menolak mengulanginya. Padahal solusinya sederhana. Tablet diminum setelah makan, atau pada malam hari sebelum tidur jika mual terasa mengganggu. Menghindari teh, kopi, susu, dan cokelat saat mengonsumsinya juga membantu penyerapan zat besi.

Zat tanin dalam teh dan kopi, serta kalsium dalam susu, menghambat penyerapan zat besi. Air putih sudah cukup, dan air jeruk yang mengandung vitamin C justru membantu tubuh menyerap besi lebih baik. Informasi seperti ini terdengar sepele, tetapi bagi remaja yang belum pernah mendengarnya, inilah pembeda antara tablet yang diminum dan tablet yang dibuang.

Temuan CKG: Remaja Putra Juga Anemia

Analisis Cek Kesehatan Gratis terhadap 23,5 juta anak selama satu tahun penuh membawa kejutan. Anemia bukan hanya masalah remaja putri. Pada siswa kelas 7 SMP, prevalensi anemia remaja putra mencapai 25,1 persen, sementara remaja putri 27,8 persen. Selisihnya tipis. Angka ini berasal dari 1,7 juta anak kelas 7 yang menjalani pemeriksaan.

Temuan tersebut disampaikan Direktur Reconstra, Iwan Ariawan, dalam seminar tindak lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak pada Agustus 2026. Menurutnya, program pemerintah selama ini menyasar remaja putri, sementara remaja putra tidak menerima tablet tambah darah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang cakupan program yang ada.

Pada jenjang SMA, prevalensi anemia remaja putri justru naik menjadi 31,6 persen dari sekitar 1,4 juta anak kelas 10 yang terdaftar. Di jenjang ini remaja putra tidak diperiksa. Artinya, program yang secara khusus menyasar remaja putri pun belum berhasil menurunkan angka anemia secara berarti. Secara keseluruhan, sekitar satu dari tiga anak sekolah di Indonesia mengalami anemia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti hal ini dari sisi yang berbeda. Menurutnya, masalah utama terletak pada cara program dijalankan. Remaja selama ini hanya menjadi objek, bukan subjek yang memahami tujuan intervensi. Ia meminta pendekatan edukasi diubah agar remaja dilibatkan dan tahu alasan di balik setiap tablet yang mereka terima.

Dampak Jangka Panjang pada Remaja Putri

Anemia pada remaja putri tidak berhenti pada rasa lelah hari ini. Ia terbawa sampai masa kehamilan. Perdarahan sebelum dan saat melahirkan, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga gangguan tumbuh kembang seperti stunting semuanya berkaitan dengan kondisi gizi ibu sebelum hamil.

Menteri Kesehatan mengingatkan bahwa dampak stunting bukan hanya tubuh yang lebih pendek. Perkembangan intelektual anak yang lahir dari ibu anemia bisa jauh di bawah kondisi normal. Karena itu, ia menegaskan pentingnya memastikan calon ibu bebas anemia jauh sebelum pernikahan dan kehamilan.

Dari sisi ekonomi, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan setiap satu dolar yang diinvestasikan untuk menurunkan anemia pada perempuan berpotensi menghasilkan dua belas dolar manfaat ekonomi. Angka ini menjelaskan mengapa anemia remaja bukan sekadar urusan dapur rumah tangga, melainkan investasi jangka panjang sebuah bangsa.

Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga

Perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar. Di rumah, ada beberapa langkah yang bisa langsung dijalankan.

Pertama, pastikan remaja putri mengonsumsi satu tablet tambah darah setiap minggu, sesuai anjuran program. Jika mual, berikan setelah makan atau jelang tidur. Kedua, sajikan sumber zat besi dari bahan hewani seperti hati ayam, daging, ikan, dan telur, serta dari bahan nabati seperti tempe, tahu, dan sayuran hijau tua. Ketiga, tambahkan buah kaya vitamin C seperti jambu, jeruk, tomat, atau nanas agar penyerapan besi lebih baik. Keempat, jangan sajikan teh atau kopi bersamaan dengan makanan sumber zat besi.

Kelima, kenali gejalanya. Jika remaja terlihat pucat, mudah lelah, sering pusing, atau sulit berkonsentrasi, ajak periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan kadar hemoglobin sederhana dan bisa memastikan apakah benar ada anemia. Anemia yang diketahui lebih awal jauh lebih mudah ditangani.

Yang paling sering terlupakan adalah melibatkan remaja dalam percakapan. Menjelaskan bahwa tablet ini bukan obat untuk orang sakit, melainkan bekal agar tubuh tetap kuat dan pikiran tetap fokus, mengubah cara mereka memandangnya. Program yang berjalan hampir sepuluh tahun dengan capaian konsumsi 1,4 persen memberi pelajaran jelas bahwa tablet saja tidak cukup. Yang membuat program berhasil adalah pemahaman yang tumbuh dari dalam.

Untuk konteks lebih luas soal bagaimana program kesehatan nasional memetakan masalah gizi remaja, bacaan lain di artikel tentang hasil CKG dan double burden of malnutrition bisa melengkapi gambaran ini. Sementara bagi orang tua yang sedang mengatur kebiasaan harian anak, pembahasan soal batas aman screen time untuk ibu hamil dan batita serta pentingnya aktivitas fisik di luar ruangan relevan untuk dilanjutkan.

Sumber: Kementerian Kesehatan RI (rilis CKG 13 Juli 2026; Aksi Bergizi; Kenali Masalah Gizi yang Ancam Remaja Indonesia; Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan), Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes (Survei Kesehatan Indonesia 2023), WHO fact sheet Anaemia, Liputan6 (13 Agustus 2026), Kompas (14 Agustus 2026), tvOnenews (14 Juni 2026), RRI (21 September 2026).

Written by

Publisita Editorial

Publisita menghadirkan literasi kesehatan keluarga, parenting, dan edukasi di era digital untuk orang tua Indonesia. Dikelola oleh tim Incode Online.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *