Ilustrasi perbandingan sosial di media sosial dan kesehatan mental remaja - publisita.id

Orang tua biasanya bertanya soal durasi. Berapa jam sehari anak boleh main ponsel. Angkanya dianggap penentu, seolah ada garis batas yang begitu dilewati anak langsung rusak.

Sebuah studi di Norwegia menyodorkan jawaban yang tidak nyaman. Yang paling menentukan bukan berapa lama, tapi apa yang terjadi di dalam kepala anak selama layar menyala.

4.011 Remaja, Lima Aspek, Satu Pemenang Jelas

Studi PULS melibatkan 4.011 remaja Norwegia berusia rata-rata 14 tahun, dari 21 sekolah menengah pertama di sebelah tenggara Norwegia. Pengumpulan data berlangsung musim gugur 2025.

Yang menarik bukan jumlahnya, tapi caranya membedah penggunaan media sosial. Skala yang dipakai memecah perilaku online jadi lima aspek berbeda: menerima permusuhan dari orang lain, membandingkan diri dengan orang lain, menghabiskan waktu, mencari dukungan, dan menunjukkan permusuhan ke orang lain.

Hasilnya diterbitkan 17 Oktober 2026 di jurnal Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health. Perbandingan sosial muncul sebagai prediktor terkuat untuk kelima gangguan mental yang diukur sekaligus.

Angkanya dipisah per kelompok. Untuk gejala internalisasi, mencakup gangguan kecemasan menyeluruh, kecemasan sosial, dan depresi mayor, perbandingan sosial menjelaskan sekitar 20 sampai 26 persen varians. Untuk gejala eksternalisasi, mencakup ADHD dan gangguan perilaku oporsional, sumbangannya 6 sampai 9 persen.

Dua aspek lain justru hampir tidak berkorelasi. Menghabiskan waktu di media sosial dan mencari dukungan, keduanya punya hubungan yang bisa diabaikan dengan kelima kelompok gejala itu.

Infografik perbandingan sosial remaja: 20-26 persen varians gejala depresi dan kecemasan, studi PULS 4.011 remaja Norwegia - publisita.id
Infografik: Perbandingan sosial sebagai prediktor terkuat gangguan mental remaja (Sumber: Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 2026)

Kenapa Perbandingan Sosial Begitu Berat

Ada alasan struktural mengapa aspek ini menonjol, dan itu bukan sifat buruk anak.

Media sosial menampilkan potongan hidup orang lain yang sudah disaring. Liburan yang dipilih yang terbaik, nilai ujian yang dibanggakan, wajah dengan filter. Remaja membandingkan kehidupan sehari-harinya yang utuh dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Perbandingan seperti ini sudah terjadi sebelum ada internet. Yang berubah adalah skalanya. Dulu pembandingnya teman sekelas. Sekarang seluruh dunia, sepanjang hari, tanpa jeda.

Aspek kedua yang menonjol adalah mengalami permusuhan dari orang lain, menyumbang 3 sampai 6 persen varians. Ini bukan sekadar komentar kasar. Ini pengalaman dijadikan sasaran, direndahkan, atau dikucilkan di ruang yang sulit dihindari anak karena ponselnya ada di saku.

Ini Membalik Saran yang Selama Ini Diberikan

Kalau masalahnya perbandingan sosial, maka nasihat “kurangi jam main HP” jadi terlalu kasar sasarannya.

Anak yang memakai media sosial dua jam untuk melihat tutorial melukis dan mengobrol dengan teman dekat tidak berada di risiko yang sama dengan anak yang memakai dua jam untuk menggulir unggahan liburan orang lain. Durasi sama, isi berbeda, dampak berbeda.

Para penulis studi menyimpulkan intervensi kemungkinan lebih efektif jika menyasar fitur spesifik media sosial, bukan membatasi penggunaan secara keseluruhan.

Itu bukan berarti durasi tidak penting. Beberapa studi lain tetap menemukan hubungan antara penggunaan lebih dari tiga sampai empat jam sehari dengan depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Tapi durasi tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai satu-satunya ukuran.

Jujur Soal Batas Bukti Ini

Ada satu hal yang harus disampaikan sebelum angka di atas dipakai untuk mengambil keputusan besar.

Studi PULS ini potong lintang, artinya data diambil pada satu waktu, bukan mengikuti anak selama bertahun-tahun. Desain seperti ini bisa menunjukkan kaitan, tapi tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu terjadi.

Bisa jadi perbandingan sosial membuat remaja depresi. Bisa juga remaja yang sudah depresi lebih cenderung membandingkan diri. Penulis studi sendiri menuliskan syaratnya dengan jelas: jika penelitian berikutnya bisa memastikan hubungan sebab akibat, intervensi yang menyasar fitur spesifik mungkin lebih efektif.

Kata “jika” itu penting. Jangan dihapus saat membaca bagian penutupnya.

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Malam Ini

Alih-alih menghitung menit, coba ganti pertanyaannya. Bukan berapa lama anak online, tapi apa yang dia lihat dan bagaimana perasaannya setelahnya.

Tiga hal yang bisa dimulai tanpa aplikasi baru atau biaya sepeser pun.

Pertama, kenali pola perbandingan pada diri anak. Tanyakan siapa yang dia ikuti dan apakah setelah menggulir dia merasa lebih baik atau lebih buruk. Pertanyaan terbuka seperti ini membuka percakapan, sementara pertanyaan soal durasi biasanya ditutup dengan angka.

Kedua, perlakukan akun yang membuat anak merasa kurang sebagai pilihan sadar, bukan takdir. Berhenti mengikuti satu akun adalah tindakan yang bisa dilakukan anak hari ini, dan dampaknya lebih langsung daripada memotong satu jam layar.

Ketiga, prioritaskan pengalaman permusuhan. Kalau anak pernah jadi sasaran komentar kasar atau dikucilkan di grup, itu lebih mendesak daripada urusan durasi. Pengalaman seperti ini berhubungan dengan gejala internalisasi yang lebih berat, dan anak biasanya butuh bantuan untuk mengenali bahwa yang salah bukan dirinya.

Angka 20 sampai 26 persen itu tidak menyebut durasi sama sekali. Ia menyebut isi.

Baca juga: Satu dari Tujuh, atau Empat dari Sepuluh: Dua Angka Perundungan Siber Anak Indonesia dan Online Sejak Kecil, Belum Paham Risiko: Celah Literasi Digital Anak Indonesia

Sumber

  • Brunborg GS, Zetterqvist M, Bang L, Raninen J. “Specific aspects of social media use and their associations with symptoms of five mental disorders among adolescents.” Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 17 Oktober 2026.
  • Nagata JM dkk. “Problematic Social Media Use and Depressive and Anxiety Symptoms in Adolescents.” Pediatrics, 19 Oktober 2026.
  • Holly L dkk. “The public health challenges of children’s and adolescents’ digital media use: applying the digital determinants of health as an interpretive framework.” The Lancet, Oktober 2026.
  • Kosen YD dkk. “Hubungan antara Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Kesehatan Mental pada Remaja dan Dewasa Muda.” Studia Pemuda UGM, Februari 2026.
Written by

Publisita Editorial

Publisita menghadirkan literasi kesehatan keluarga, parenting, dan edukasi di era digital untuk orang tua Indonesia. Dikelola oleh tim Incode Online.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *