Di tengah hiruk-pikuk kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut sebagai masa depan dunia, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: apakah teknologi ini benar-benar netral?
Pada Juni 2026, UN Women mengeluarkan peringatan keras. Lewat media advisory berjudul “AI is already rewriting reality for billions of people. It is getting women wrong,” organisasi PBB itu membeberkan data yang mencengangkan: 44 persen dari 133 sistem AI menunjukkan bias gender, dan 26 persen menunjukkan bias gender sekaligus rasial. Artinya, hampir setengah dari teknologi yang kita gunakan setiap hari memiliki kecenderungan diskriminatif terhadap perempuan.
Lalu, apa hubungannya dengan kesehatan dan kesejahteraan keluarga? Ternyata, sangat erat.
Stereotip yang Dikodekan dalam Algoritma
Penelitian UNESCO tentang Bias Against Women and Girls in Large Language Models menemukan bahwa model bahasa besar (LLM) seperti GPT dan Llama secara konsisten mengaitkan perempuan dengan kata-kata seperti “rumah,” “keluarga,” dan “anak-anak,” sementara laki-laki dikaitkan dengan “bisnis,” “eksekutif,” dan “karier.” Yang lebih mengkhawatirkan, satu model menggambarkan perempuan dalam peran domestik empat kali lebih sering daripada laki-laki.
Bagi keluarga Indonesia, bias semacam ini bukan sekadar soal teknis. Stereotip yang terus diperkuat oleh AI bisa memengaruhi cara anak-anak perempuan melihat masa depan mereka, cara pasangan membagi peran rumah tangga, dan bahkan cara institusi menilai kompetensi ibu bekerja.
Jayathma Wickramanayake, UN Women Lead on Digital Technologies, menjelaskan bahwa AI menarik bias dari teks-teks lama yang ditulis oleh manusia tentang manusia, di mana perempuan ditempatkan di ranah domestik dan laki-laki di ranah profesional. “Ini bukan kelemahan desain, ini celah kebijakan yang dibiarkan menganga,” ujarnya dalam wawancara dengan UN News.
Beban Ganda di Era Digital: Kisah Nyata dari Indonesia
Dampak bias AI tidak hanya terjadi di level wacana. Penelitian terbaru dari The Conversation Indonesia mengungkap bagaimana algoritma platform ojek daring dan lokapasar justru memperburuk beban ganda perempuan.
Lia, seorang kurir pengantar makanan berusia 33 tahun, harus bangun sebelum matahari terbit untuk memasak dan menyiapkan anak-anaknya pergi sekolah. Baru setelah urusan domestik beres, ia bisa login ke aplikasi. “Sistem tidak tahu kalau saya punya anak. Sistem hanya tahu apakah saya online atau tidak,” katanya.
Algoritma platform memberi hadiah bagi mereka yang online terus-menerus. Insentif menuntut jumlah perjalanan tertentu dalam jendela waktu sempit, standar yang sulit dicapai oleh perempuan dengan tanggung jawab domestik. Ketika Lia keluar dari aplikasi untuk menjemput anaknya, ia kehilangan bonus. Ketika ia mengurangi jam kerja karena kelelahan, metrik performanya merosot.
Cerita serupa datang dari Cinthia, seorang ibu tunggal dengan bayi berusia setahun. Saat ia jatuh sakit dan mematikan aplikasi selama beberapa hari, tawaran pekerjaannya berkurang drastis saat kembali aktif. “Rasanya seperti sistem menghukum saya. Sekarang saya takut untuk berhenti bekerja,” tuturnya.
Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana AI yang diklaim netral justru menjadi alat yang memperkuat ketimpangan gender di ranah yang paling dekat dengan keluarga: penghidupan dan kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Kekerasan Digital yang Makin Canggih
UN Women juga menyoroti bagaimana AI memperparah kekerasan terhadap perempuan di ruang digital. Hampir satu dari empat perempuan pembela hak asasi manusia, aktivis, dan jurnalis yang disurvei mengalami kekerasan online berbasis AI. Dua belas persen melaporkan penyebaran gambar pribadi tanpa izin, termasuk konten intim atau seksual tanpa izin.
Di Indonesia, di mana literasi digital masih belum merata, ancaman ini menjadi lebih nyata. Perempuan di daerah dengan akses internet terbatas, seperti di Papua yang penetrasinya baru sekitar 26 persen, memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi korban tanpa memiliki pengetahuan atau dukungan untuk melindungi diri.
Perempuan di Ruang Pengambilan Keputusan AI: Masih Minim
Salah satu akar masalahnya sederhana: perempuan hampir tidak ada di ruang tempat AI dirancang. Data UNESCO menunjukkan perempuan hanya mewakili 20 persen karyawan teknis di perusahaan pembelajaran mesin besar, 12 persen peneliti AI, dan hanya 6 persen pengembang perangkat lunak profesional.
Dari 138 negara yang dinilai UN Women, hanya 24 yang menyertakan gender dalam strategi AI nasional mereka, dan hanya 18 yang memiliki ketentuan responsif gender yang substantif. Indonesia sendiri memiliki Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial, tapi implementasinya masih perlu diperkuat.
Dampak Psikologis dan Kesehatan Mental
Bias AI tidak hanya soal kehilangan pendapatan atau kesempatan kerja. Ada dimensi psikologis yang jarang dibahas: ketika seorang ibu bekerja terus-menerus diingatkan oleh sistem bahwa dirinya “tidak cukup produktif” karena harus mengurus anak, itu menggerogoti kesehatan mentalnya. Perasaan bersalah, cemas, dan tidak berdaya menjadi teman sehari-hari.
Penelitian tentang parental burnout menunjukkan bahwa ibu lebih rentan mengalami kelelahan pengasuhan dibandingkan ayah, terutama ketika mereka juga harus memenuhi tuntutan ekonomi. Sistem AI yang tidak peka gender hanya menambah lapisan tekanan baru.
Yang menarik, riset The Conversation Indonesia juga menemukan sisi resistensi yang inspiratif. Para pekerja gig perempuan membangun jaringan solidaritas melalui grup WhatsApp dan Telegram. Mereka saling berbagi strategi menghadapi algoritma, membantu “terapi akun” yang sepi pesanan, hingga bersama-sama mendatangi kantor aplikator ketika salah satu anggota terkena sanksi. Inilah yang disebut para peneliti sebagai “resistensi sehari-hari” yang lahir dari solidaritas feminis.
Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga?
Kesadaran adalah langkah pertama. Memahami bahwa AI tidak netral membantu kita lebih kritis dalam menggunakan teknologi. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dan keluarga:
- Ajarkan literasi AI pada anak, terutama anak perempuan. Jelaskan bahwa algoritma bisa bias dan mereka tidak boleh membiarkan teknologi mendefinisikan kemampuan atau masa depan mereka.
- Pantau penggunaan AI pada remaja. Artikel AI Therapy untuk Remaja: Teman Curhat Digital atau Bahaya Baru? di publisita.id bisa menjadi referensi tambahan.
- Diskusikan pembagian peran di rumah secara setara, sehingga stereotip yang diperkuat AI tidak tertanam dalam pola asuh.
- Dukung partisipasi perempuan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, matematika). Semakin banyak perempuan di industri AI, semakin inklusif teknologinya.
- Laporkan konten diskriminatif yang dihasilkan AI ke platform terkait.
Kesimpulan: Masa Depan yang Lebih Adil Dimulai dari Rumah
UN Women telah menyerukan agar kesetaraan gender dibangun dalam desain, penerapan, dan tata kelola sistem AI. Tapi perubahan tidak bisa hanya menunggu kebijakan dari atas. Keluarga adalah unit pertama tempat nilai-nilai kesetaraan ditanamkan.
AI mungkin sedang menulis ulang realitas bagi miliaran orang. Tapi kita punya pilihan: diam saja menonton, atau ikut memastikan bahwa realitas baru itu adil bagi semua, terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang selama ini paling dirugikan oleh bias yang tak terlihat.
Sumber: UN Women Media Advisory (Juni 2026), UNESCO Study on Bias Against Women and Girls in LLMs (2024), The Conversation Indonesia (2026), UN News (Juni 2026), Kompas.id (2024), Indonesiana.id.
