Setiap jam, satu perempuan di Indonesia wafat saat hamil atau bersalin. Dalam waktu yang hampir bersamaan, satu perempuan lain kehilangan nyawa setiap 25 menit akibat kanker serviks. Dua angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin nyata bahwa kesehatan perempuan Indonesia masih jauh dari kata aman.
Kabar baiknya, kini ada gerakan besar yang mencoba memutus rantai ini dari hulu. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) peluncuran inisiatif bernama Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN) tepat pada peringatan Hari Kartini, 21 April 2026. Gerakan ini lahir bukan sekadar program, melainkan sebuah seruan aksi kolektif untuk melihat kesehatan perempuan sebagai investasi masa depan bangsa, bukan urusan pribadi semata. Inisiatif ini digagas oleh Prof. Dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K), MPH, Ketua Umum POGI Pusat, yang meyakini bahwa menyelesaikan masalah kesehatan perempuan membutuhkan pendekatan yang tidak parcial, melainkan menyeluruh sepanjang siklus hidup.
Darurat kesehatan perempuan yang tidak boleh diabaikan
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis 5 Mei 2026 mencatat angka kematian ibu (AKI) Indonesia kini berada di 144 per 100.000 kelahiran hidup. Secara nasional, angkanya turun drastis dibanding 189 pada sensus 2020, 305 pada 2015, dan 346 pada 2010. Penurunan ini menandakan kualitas layanan kesehatan ibu terus membaik.
Namun ceritanya berubah begitu kita membedah angka per wilayah. Wilayah Jawa dan Bali mencatat AKI 114, Sumatera 130, Kalimantan 164, dan Sulawesi 214. Yang paling memprihatinkan adalah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua yang mencapai 317 per 100.000 kelahiran hidup. Artinya, perempuan di Indonesia timur hampir tiga kali lebih berisiko kehilangan nyawa saat melahirkan dibanding saudara mereka di Jawa dan Bali. Ketimpangan ini menunjukkan akses dan kualitas layanan kesehatan belum merata di seluruh penjuru negeri.
Yang lebih mengejutkan, angka 144 ini masih jauh dari target global. Indonesia berkomitmen menekan AKI hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Dengan waktu kurang dari lima tahun, pekerjaan rumah yang tersisa masih sangat besar.
Ancaman ganda: angka kematian ibu dan kanker serviks
Persoalan kesehatan perempuan Indonesia tidak berhenti pada persalinan. Kanker serviks menjadi pembunuh kedua terbesar bagi perempuan setelah kanker payudara. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan menyebut setiap 25 menit ada satu perempuan Indonesia yang meninggal karena penyakit ini.
Data GLOBOCAN/IARC 2022 mencatat 36.964 kasus baru dan 20.708 kematian akibat kanker serviks di Indonesia setiap tahun. Padahal, hampir seluruh kasus (97 persen hingga 99 persen) disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV) yang sebenarnya bisa dicegah lewat vaksinasi. Rendahnya kesadaran screening dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan menyebabkan sebagian besar kasus kanker serviks di Indonesia baru terdeteksi pada stadium yang sudah lanjut.
Menghadapi fakta ini, Kementerian Kesehatan telah peluncuran program vaksinasi HPV nasional sejak Agustus 2023 untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD, sesuai Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim. Dalam waktu singkat, lebih dari 5 juta remaja perempuan Indonesia telah menerima vaksin HPV. Kemenkes juga menggandeng Biofarma melalui mekanisme alih teknologi agar vaksin bisa diproduksi dalam negeri.
Infografik: Angka Kematian Ibu dan Kanker Serviks di Indonesia. Sumber: POGI, Kemenkes, GLOBOCAN/IARC 2022, BPS SUPAS 2025
SPRIN: pendekatan dari hulu dengan siklus hidup
Di sinilah Gerakan SPRIN hadir dengan pembeda utama, yaitu pendekatan siklus hidup (life-cycle approach). POGI percaya bahwa investasi kesehatan pada satu fase adalah pondasi untuk kesehatan fase berikutnya. Alih-alih hanya sibuk menangani kehamilan dan persalinan, SPRIN menyelamatkan perempuan sejak masa paling awal kehidupannya.
Ada lima fase yang menjadi peta jalan gerakan ini. Pertama, fase remaja, dengan membekali remaja putri pengetahuan reproduksi sesuai usia dan proteksi dini terhadap infeksi menular seksual. Kedua, fase dewasa dan pra-konsepsi, memastikan calon ibu dalam kondisi terbaik sebelum kehamilan. Ketiga, fase kehamilan, mendampingi perjalanan yang sehat dan terawasi. Keempat, fase persalinan dan nifas, menjamin keselamatan ibu pasca melahirkan lewat perawatan komprehensif. Kelima, fase pra-menopause dan menopause, menjaga produktivitas dan kualitas hidup perempuan lanjut usia.
Cara pandang ini sangat masuk akal secara medis. Kementerian Kesehatan mencatat hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia menjadi penyebab kematian ibu nomor satu di Indonesia dengan kontribusi sekitar 33 persen, disusul perdarahan dan infeksi. Data Profil Kesehatan Indonesia 2024 juga menunjukkan komplikasi non-obstetri seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes yang tidak terdeteksi sebelum kehamilan ikut menyumbang angka kematian ibu, menggarisbawahi pentingnya deteksi dini dan pencegahan sejak fase pra-konsepsi.
Wujud nyata gerakan SPRIN
Lahirnya SPRIN tidak cukup di atas kertas. Gerakan ini diwujudkan ke dalam sejumlah aksi konkret. Pendampingan kehamilan dilakukan sejak masa perencanaan, jauh sebelum janin terbentuk. Distribusi suplemen gizi lengkap (MMN) digencarkan untuk menekan anemia, mengingat anemia merupakan faktor risiko serius yang berkontribusi terhadap pendarahan saat persalinan.
POGI juga menyiapkan standardisasi layanan melalui sertifikasi SPRIN Certified agar setiap fasilitas kesehatan memiliki standar keamanan dan kualitas yang sama dalam menangani ibu hamil. Di tingkat komunitas, dibentuk kader yang disebut Sprinter, yaitu individu terlatih yang menjadi jembatan informasi antara tenaga medis dan masyarakat.
Yang tidak kalah penting, POGI membangun Rumah Perempuan Indonesia (RPI), sebuah pusat yang mengintegrasikan layanan konsultasi jarak jauh dan pusat data kesehatan ibu. Melalui rumah ini, suara perempuan diharapkan lebih didengar dan kebutuhan kesehatannya terpenuhi secara menyeluruh.
Kekuatan gerakan ini juga terletak pada kolaborasi seluruh elemen organisasi. POGI Cabang, Pokja, Bidang, Himpunan seperti HOGI, HOGSI, HUGI, HIFERI, dan HKFM, serta Badan Khusus seperti Inajog, Inalarm, Perfitri, dan IGES saling melengkapi untuk memastikan tidak ada satu pun perempuan Indonesia yang tertinggal. Dukungan datang pula dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang menilai inisiatif ini sejalan dengan filosofi ketika kita mendidik perempuan, kita sesungguhnya sedang membangun bangsa.
Apa yang bisa keluarga lakukan
Gerakan SPRIN tidak bisa berjalan sendiri tanpa peran keluarga. Dimulai dari pendidikan sejak dini, pastikan anak perempuan memahami kesehatan reproduksinya dan lengkapi vaksin HPV sesuai jadwal. Untuk calon ibu, lakukan pemeriksaan kesehatan sebelum hamil dan penuhi kebutuhan gizi agar anemia tidak menjadi ancaman. Selama kehamilan, rajin kontrol rutin untuk mendeteksi tanda bahaya seperti preeklamsia lebih awal.
Kesadaran untuk melahirkan di fasilitas kesehatan dengan tenaga medis juga sangat menentukan. Kasus kematian ibu sebagian besar sebenarnya dapat dicegah apabila penanganannya tepat waktu dan komprehensif. Artinya, kualitas layanan dan kecepatan respons di fasilitas kesehatan menjadi faktor krusial yang perlu diperbaiki bersama.
Perempuan adalah jantung keluarga dan tulang punggung bangsa. Melindungi kesehatannya sejak dari hulu, pada setiap fase kehidupan, bukan hanya menyelamatkan satu nyawa, melainkan menjaga masa depan keluarga dan generasi yang akan datang.