Di grup WhatsApp anakmu, ada satu pesan yang terus diteruskan. Isinya ejekan soal fisik salah satu temannya, disertai tangkapan layar yang memalukan. Di kelas, tidak ada yang berani membela, karena semua takut jadi sasaran berikutnya. Anak yang diejek hanya tersenyum kecil, lalu pura-pura tidak melihat.
Kamu mungkin mengira itu hanya bercanda khas remaja. Tapi di balik layar, tanpa kamu sadari, sejengkal layar itu sedang meninggalkan luka yang tidak terlihat. Luka yang bisa menetap jauh lebih lama daripada sekadar hari itu.
Perundungan di dunia maya, atau yang dikenal sebagai cyberbullying, bukan lagi masalah pinggiran. Ini masalah nyata yang menimpa jutaan anak dan remaja di Indonesia. Dan yang paling menyedihkan, sebagian besar orang tua baru tahu setelah dampaknya sudah terasa.
Apa Itu Cyberbullying dan Mengapa Berbeda dari Bullying Biasa
Menurut UNICEF, cyberbullying adalah perundungan yang menggunakan teknologi digital, dan bisa terjadi di media sosial, platform chat, platform game, maupun ponsel. Perilaku ini berulang dan ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan orang yang menjadi sasaran.
Bentuknya beragam. Menyebarkan kebohongan tentang seseorang, memposting foto memalukan, membuat akun palsu, membajak identitas online, sampai mengirim pesan bernada mengancam. Semuanya masuk dalam kategori ini.
Yang membuat cyberbullying lebih berbahaya daripada perundungan tatap muka adalah tiga hal. Pertama, pelaku bisa bersembunyi di balik anonimitas, sehingga lebih berani mengatakan hal yang menyakitkan. Kedua, serangannya terjadi sepanjang waktu, tidak berhenti saat jam sekolah usai. Ketiga, jejaknya meninggalkan rekaman digital yang sulit, bahkan tidak bisa, dihapus. Foto atau komentar memalukan bisa disebarluaskan dan diakses kembali kapan saja.
Seberapa Besar Masalah Ini di Indonesia
Angka-angka yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, sekitar 14,49 persen anak laki-laki dan 13,78 persen anak perempuan usia 13 sampai 17 tahun pernah mengalami perundungan di dunia maya.
Infografik: Data perundungan daring pada remaja di Indonesia (Sumber: KemenPPPA, Kemenkomdigi, UNICEF)
Menteri PPPA bahkan menyebut satu dari tujuh anak di Indonesia pernah menjadi korban perundungan daring. Angka yang lebih tinggi juga dikemukakan Komnas Perlindungan Anak, yang mencatat sekitar 40 persen anak pernah mengalami kekerasan di ruang daring, termasuk perundungan, berdasarkan hasil survei yang mereka lakukan pada 2022.
Di tingkat global, UNICEF melaporkan bahwa satu dari enam anak di dunia mengalami perundungan digital pada 2024. Sepertiga anak muda di 32 negara mengaku pernah mengalaminya. Artinya, ini bukan masalah yang terjadi di satu daerah atau satu keluarga saja, melainkan fenomena yang hampir dialami semua orang tua.
Dampak Psikologis yang Tidak Terlihat di Mata Orang Dewasa
Masalah terbesar dari cyberbullying adalah dampaknya yang sering tidak terlihat. Berbeda dengan luka fisik, luka psikologis tidak menunjukkan bekas yang jelas, sehingga kerap dianggap remeh.
Berbagai penelitian ilmiah yang ditelaah dalam studi literatur jurnal terindeks menunjukkan bahwa remaja korban cyberbullying cenderung mengalami penurunan harga diri, kecemasan, stres, dan depresi. Mereka merasa tidak berharga, malu, dan takut berinteraksi dengan orang lain. Banyak yang akhirnya menarik diri dari pergaulan sosial, mengisolasi diri, dan kehilangan minat belajar.
Pada kasus yang lebih berat, korban mengalami gangguan tidur, sakit kepala, trauma emosional, sampai munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup. Tekanan datang terus-menerus dari layar yang tidak bisa mereka hindari, karena gawai saat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja.
Perwakilan UNICEF di Indonesia mengingatkan bahwa trauma akibat kekerasan online tidak hanya dirasakan saat itu, tetapi bisa berlangsung sepanjang hidup. Ketika sesuatu sudah ada di dunia maya, jejaknya tetap ada. Anak korban sering membungkam, menarik diri, dan masuk ke dunianya sendiri tanpa ada tempat untuk bercerita.
Mengapa Anak Sulit Bercerita ke Orang Tua
Kalau dampaknya seberat itu, kenapa anak tidak bilang ke orang tuanya? Inilah bagian yang sering disalahpahami.
Banyak remaja takut dianggap lebay atau terlalu perasa. Beberapa khawatir gawainya akan disita kalau mereka bercerita, sehingga memilih diam demi tetap bisa mengakses media sosial. Ada juga yang malu karena merasa ejekan itu memang benar tentang dirinya, terutama soal penampilan fisik.
Yang paling umum, remaja takut orang tua justru menyalahkan mereka. Pertanyaan seperti “kenapa kamu yang jadi sasaran?” atau “kamu tadi ngapain di situ?” membuat mereka merasa dihakimi, bukan didukung. Akibatnya, mereka memendam sendiri sampai gejalanya memberat.
Peran Orang Tua: Bukan Melarang, Tapi Mendampingi
Kabar baiknya, ada banyak hal yang bisa dilakukan orang tua, dan tidak perlu menunggu sampai masalah terjadi.
Pertama, bangun komunikasi yang terbuka sejak dini. Jadikan anak merasa aman untuk bercerita apa pun tanpa takut dihakimi. Tanyakan tentang hari mereka di sekolah dan di dunia maya, dengan nada penasaran, bukan menginterogasi.
Kedua, pahami dunia digital anak. Kamu tidak harus jadi ahli teknologi, tapi cukup tahu platform apa yang mereka pakai dan bagaimana cara kerjanya. Ketika anak tahu kamu memahami dunianya, mereka lebih terbuka untuk bertanya dan bercerita.
Ketiga, ajarkan literasi digital. Bukan cuma soal tidak mengeklik tautan mencurigakan, tapi juga soal bagaimana bersikap baik di dunia maya, mengenali tanda-tanda perundungan, dan melaporkan konten yang tidak sehat. Menurut KemenPPPA, baru sekitar 37 persen anak yang menerima edukasi keamanan digital, jadi masih banyak yang perlu dilakukan.
Keempat, kenali tanda-tanda perubahan. Kalau anak tiba-tiba jadi pendiam, sering menyembunyikan gawainya, menolak sekolah, kehilangan nafsu makan, atau tidurnya terganggu, jangan langsung menghakimi. Dekati dengan lembut, dan jangan ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor sekolah jika gejalanya berlanjut.
Penutup
Cyberbullying bukan sekadar bercanda. Di balik layar kecil tempat anak-anak kita menghabiskan waktu, ada luka yang tidak terlihat dan bisa menetap sepanjang hidup. Sebagai orang tua, kita tidak bisa mengawasi setiap pesan yang mereka terima, tapi kita bisa menjadi tempat yang aman untuk mereka pulang dan bercerita.
Karena ketika jejak digital tidak pernah benar-benar hilang, kehadiran orang tua yang hangat bisa menjadi satu hal yang membuat anak merasa tidak pernah benar-benar sendirian.
Baca juga: Echo Chamber di Grup Keluarga: Antara Ibu di WA dan Kita di TikTok