
Pengantar
Pernah dengar istilah “anak tengah syndrome”? Mungkin Kakak pernah dengar dari obrolan teman atau grup WA parenting. Katanya, anak yang lahir di urutan tengah: apalagi dalam keluarga dengan tiga anak: punya kepribadian yang khas: lebih suka menyendiri, mudah cemburu, sering merasa diabaikan, dan punya self-esteem yang rendah.
Tapi benarkah begitu? Seberapa jauh fakta ilmiah mendukung klaim ini?
Dalam artikel ini, kita akan bedah tuntas apakah middle child syndrome benar-benar ada secara ilmiah, atau hanya mitos parenting yang kebetulan dipercaya luas.
Apa Itu “Anak Paling Tengah Syndrome”?
Istilah “middle child syndrome” sebenarnya bukan diagnosis medis. American Psychological Association (APA) mendefinisikannya sebagai istilah informal yang merujuk pada keyakinan bahwa urutan kelahiran (birth order) memengaruhi kepribadian dan pengalaman seseorang secara signifikan.
Konsep ini pertama kali digagas oleh psikolog Alfred Adler pada awal abad ke-20. Adler percaya bahwa posisi anak dalam keluarga: sulung, tengah, atau bungsu: menciptakan dinamika psikologis yang khas. Menurut Adler, anak tengah sering merasa “terjepit”: tidak mendapatkan perhatian seperti anak sulung yang dianggap “pioneer,” juga tidak dimanjakan seperti si bungsu yang selalu dianggap “bayi.”
Dari sinilah lahir anggapan bahwa anak tengah cenderung:
- Merasa diabaikan atau kurang diperhatikan
- Punya harga diri yang lebih rendah
- Lebih independen tapi juga lebih kesepian
- Sering menjadi penengah konflik antar saudara
- Sulit menemukan “peran” mereka dalam keluarga
Tapi apakah semua ini benar secara ilmiah? Mari kita lihat data penelitian terbaru.
Apa Kata Penelitian Terbaru?
Di sinilah menariknya. Penelitian modern justru tidak menemukan bukti kuat bahwa urutan kelahiran memiliki efek yang signifikan terhadap kepribadian.
Studi 1: Birth Order dan Kepribadian (2015)
Sebuah studi besar yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2015 oleh Damian & Roberts menganalisis data dari lebih 377.000 siswa sekolah menengah di Amerika Serikat. Hasilnya?
Meskipun anak sulung cenderung memiliki skor IQ sedikit lebih tinggi, tidak ada hubungan signifikan antara urutan kelahiran dan lima trait kepribadian utama (Big Five):
- Extraversion: apakah seseorang mudah bergaul atau pendiam
- Emotional stability: seberapa stabil emosi seseorang
- Conscientiousness: tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab
- Agreeableness: keramahan dan empati
- Imagination/Openness: kreativitas dan keterbukaan
Artinya, anak tengah tidak secara statistik lebih cemas, lebih pendiam, atau lebih tidak percaya diri dibanding saudara-saudaranya.
Studi 2: Urutan Lahir dan Perilaku Berisiko (2019)
Studi lain di PNAS oleh Rohrer dkk. (2019) menguji teori bahwa urutan kelahiran memengaruhi perilaku mengambil risiko. Mereka menggunakan tiga sumber data berbeda:
- Kuesioner dari German Socio-Economic Panel
- Basel-Berlin Risk Study (mengukur 39 komponen pengambilan risiko)
- Analisis kualitatif tentang hubungan urutan kelahiran dengan menjadi explorer atau revolutionary
Temuan mereka: tidak ada korelasi sama sekali. Urutan kelahiran tidak memprediksi siapa yang lebih berani mengambil risiko: dalam pekerjaan, petualangan, atau kehidupan secara umum.
Studi 3: Birth Order dan Kesuksesan Karier (2020)
Penelitian yang diterbitkan di European Journal of Personality (2020) meneliti apakah urutan kelahiran memengaruhi status dan pilihan karier seseorang di masa dewasa. Hasilnya lagi-lagi menunjukkan bahwa birth order tidak secara langsung memengaruhi status sosial atau jenis profesi yang dipilih.
Yang menarik, studi ini menemukan bahwa urutan kelahiran mungkin memiliki pengaruh tidak langsung terhadap kecerdasan dan pencapaian pendidikan, yang pada gilirannya bisa memengaruhi karier. Tapi ini pun masih bersifat teoretis dan butuh penelitian lebih lanjut.
Studi 4: Perilaku Prososial (2016)
Sebuah studi di Personality and Individual Differences (2016) menemukan bahwa anak yang lahir belakangan (termasuk anak tengah dan bungsu) cenderung menunjukkan lebih banyak perilaku prososial, seperti kebaikan hati dan kemauan membantu orang lain: dibanding kakak sulung mereka.
Namun, penting dicatat: studi ini hanya melibatkan partisipan perempuan dari rumah tangga kelas menengah ke atas dengan dua orang tua. Jadi hasilnya belum tentu bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih beragam.
Kalau Bukan Urutan Lahir, Lalu Apa yang Memengaruhi Kepribadian Anak?
Para psikolog sepakat bahwa jauh lebih penting dari urutan kelahiran adalah faktor-faktor lain seperti:
1. Pola Asuh Orang Tua
Anak pertama dan anak kedua sering diperlakukan berbeda oleh orang tua yang sama. Bukan karena pilih kasih, tapi karena orang tua berubah seiring waktu. Untuk pola asuh yang optimal, simak panduan tumbuh kembang anak dari IDAI. Orang tua anak pertama biasanya lebih ketat dan protektif, sementara anak-anak berikutnya menikmati orang tua yang lebih santai dan berpengalaman. Perbedaan pola asuh inilah, bukan urutan lahirnya: yang mungkin menciptakan perbedaan kepribadian.
2. Jarak Usia Antar Saudara
Anak tengah yang punya jarak usia jauh dengan kakak dan adiknya (misalnya: kakak beda 7 tahun, adik beda 5 tahun) mungkin mengalami dinamika yang sangat berbeda dibanding anak tengah dengan jarak usia yang rapat. Semakin lebar jarak usia, semakin kecil kemungkinan “syndrome” ini muncul.
3. Jumlah Anak dan Komposisi Gender
Dalam keluarga dengan 4+ anak, konsep “anak tengah” jadi kabur. Apakah anak kedua dari 5 bersaudara adalah anak tengah? Lalu bagaimana dengan anak ketiga? Begitu juga dengan komposisi gender: anak tengah yang jadi satu-satunya anak laki-laki di antara saudara perempuan mungkin punya pengalaman yang sangat berbeda.
4. Status Sosial Ekonomi
Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan tekanan finansial tinggi mungkin mengalami dinamika yang berbeda dibanding mereka yang tumbuh dalam keluarga stabil secara ekonomi, terlepas dari urutan kelahirannya.
5. Temperamen Bawaan (Genetik)
Setiap anak lahir dengan temperamen yang berbeda: ada yang lebih mudah bergaul, ada yang lebih sensitif. Faktor genetik ini seringkali jauh lebih dominan daripada urutan kelahiran dalam membentuk kepribadian.
Lalu Kenapa Mitos Ini Begitu Populer?
Ini pertanyaan yang menarik. Kalau sains bilang tidak ada bukti kuat, kenapa banyak orang merasa “anak tengah syndrome” itu nyata?
- Konfirmasi bias (Confirmation bias): Ketika seseorang percaya bahwa anak tengah pasti begini atau begitu, mereka cenderung hanya memperhatikan perilaku yang membenarkan keyakinan itu dan mengabaikan yang bertentangan. Fenomena ini mirip dengan echo chamber di dunia digital, di mana kita cenderung mencari informasi yang memperkuat keyakinan yang sudah ada.
- Pengalaman pribadi terasa sangat nyata: Perasaan “diabaikan” atau “kurang diperhatikan” memang bisa terjadi pada anak mana pun, termasuk anak tengah. Perasaan ini valid, tapi itu tidak berarti penyebabnya adalah urutan kelahiran.
- Cerita lebih mudah diingat daripada statistik: Anekdot tentang anak tengah yang merasa terpinggirkan lebih mudah diingat daripada data penelitian yang kompleks. Ini membuat mitos terus bertahan.
- Media dan budaya pop: Film, serial TV, dan buku parenting sering menggambarkan anak tengah dengan stereotip tertentu. Paparan berulang ini memperkuat mitos di masyarakat.
Tips untuk Orang Tua: Membesarkan Anak Tanpa Stigma Urutan Lahir
Terlepas dari debat ilmiahnya, ada beberapa hal praktis yang bisa Kakak lakukan untuk memastikan setiap anak merasa dihargai dan dicintai, apa pun urutan lahir mereka:
1. Berikan “Waktu Khusus” untuk Setiap Anak
Luangkan waktu 1-on-1 secara rutin dengan setiap anak: bahkan hanya 15 menit sehari tanpa gangguan. Waktu khusus membuat setiap anak merasa dilihat dan didengar.
2. Hindari Pelabelan
Hindari mengatakan hal seperti “Kamu kan anak paling tua, harus jadi contoh” atau “Si tengah memang suka cari perhatian.” Label ini bisa menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy).
3. Kenali Keunikan Masing-masing Anak
Setiap anak punya minat, bakat, dan temperamen yang berbeda. Alih-alih membandingkan, bantu mereka menemukan “panggung” mereka sendiri: baik itu olahraga, seni, sains, atau hobi lain.
4. Libatkan dalam Pengambilan Keputusan
Berikan setiap anak kesempatan untuk memilih, dari menu makan malam hingga kegiatan liburan. Ini membantu mereka merasa punya suara dan peran dalam keluarga.
5. Validasi Perasaan Mereka
Jika anak berkata, “Aku merasa Kakak lebih disayang,” jangan langsung membantah. Dengarkan dan validasi perasaannya. Terkadang yang anak butuhkan bukan solusi, melainkan rasa didengar.
6. Dorong Pertemanan di Luar Keluarga
Pertemanan di sekolah atau lingkungan bermain memberi anak kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka: tanpa dibayangi peran mereka di keluarga. Ini sangat penting untuk membangun identitas dan kepercayaan diri.
Kesimpulan: Mitos yang Dipercaya Luas, Tapi Tak Terbukti Ilmiah
Anak paling tengah syndrome, atau middle child syndrome: adalah mitos yang populer, bukan fakta ilmiah yang terbukti.
Penelitian modern dari PNAS (2015, 2019), European Journal of Personality (2020), hingga pernyataan resmi American Psychological Association menunjukkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian, perilaku, atau kesuksesan seseorang di masa dewasa.
Ini bukan berarti perasaan anak tengah tidak valid. Rasa diabaikan, cemburu, atau bingung akan peran dalam keluarga adalah perasaan yang nyata dan bisa dialami oleh anak mana pun, bukan hanya anak tengah.
Yang lebih penting dari urutan lahir adalah bagaimana kita sebagai orang tua:
- Memberikan perhatian yang setara
- Menghindari label dan perbandingan
- Menghargai keunikan setiap anak
- Mendengarkan dan memvalidasi perasaan mereka
Karena pada akhirnya, yang membentuk kepribadian anak bukanlah nomor urut kelahirannya, melainkan kualitas kasih sayang, perhatian, dan pengasuhan yang ia terima setiap hari.
Referensi
- Damian, R. I., & Roberts, B. W. (2015). The associations of birth order with personality and intelligence. PNAS, 112(46), 14224-14229.
- Rohrer, J. M., et al. (2019). Examining the effects of birth order on risk-taking. PNAS, 116(13), 6013-6018.
- Boutwell, B. B., et al. (2020). Birth order and adult social outcomes. European Journal of Personality, 34(6), 1094-1112.
- Paulhus, D. L., & Trapnell, P. D. (2016). Birth order effects on prosocial behavior. Personality and Individual Differences, 94, 312-316.
- American Psychological Association. Birth order. APA Dictionary of Psychology.
- American Psychological Association. Middle child syndrome. APA Dictionary of Psychology.
- Healthline. (2023). Middle Child Syndrome: What It Is and How to Prevent It.
- Medical News Today. (2023). Is middle child syndrome real?
Artikel ini ditinjau dari sumber-sumber ilmiah dan jurnal bereputasi untuk memastikan akurasi informasi. Publisita.id berkomitmen menyajikan konten kesehatan dan pengasuhan anak yang berbasis bukti (evidence-based).