Ada satu momen yang pasti pernah kamu alami. Nge-scroll Instagram atau Twitter, nemu postingan biasa aja, misalnya foto makanan, opini politik receh, atau sekadar curhat receh seseorang. Terus kamu scroll ke kolom komentar, dan… wah. Isinya sambatan pedas yang gak ada habisnya.
Yang bikin heran? Beberapa dari mereka, kalau ketemu di dunia nyata, mungkin orangnya baik-baik aja. Tapi di kolom komentar, mereka berubah jadi hakim, jaksa, dan algojo dalam satu akun.
Kenapa bisa gitu? Ternyata ini bukan soal “orang Indonesia emang kasar” atau “budaya medsos yang beracun” doang. Ada penjelasan ilmiah yang sudah diteliti selama dua dekade terakhir.

Bukan Karena Jahat, Tapi Karena Situasi
Tahun 2004, seorang psikolog bernama John Suler dari Rider University menerbitkan paper yang jadi rujukan utama sampai sekarang: “The Online Disinhibition Effect” di jurnal CyberPsychology & Behavior.
Suler menemukan bahwa orang berperilaku berbeda di internet bukan karena kepribadian mereka berubah, tapi karena enam faktor situasional yang bikin hambatan psikologis kita longgar.
Bayangin kamu lagi di lift. Kamu diem aja, kan? Bukan karena kamu pemalu, tapi karena norma sosial bilang “jangan ngomong sendiri di lift.” Sekarang bayangin kamu di kamar sendiri, pegang HP, lagi scroll Twitter. Norma sosial itu ilang. Kamu merasa aman. Kamu ngomong apa aja.
Itulah disinhibisi online.
Enam Pemicu Utama
1. Anonimitas: Gak Ada yang Tahu Siapa Kamu
Ini yang paling kuat. Ketika kamu bikin akun dengan nama palsu, foto kucing, dan bio “tweet pribadi”, kamu kehilangan satu lapisan pertahanan paling penting: rasa malu.
Riset dari Lapidot-Lefler dan Barak (2012) di Computers in Human Behavior membuktikan bahwa anonimitas adalah faktor tunggal terkuat yang bikin orang lebih agresif di internet. Makin anonim seseorang, makin pedas komentarnya.
Kamu gak bakal ngatain muka temen kamu di kantor. Tapi di kolom komentar dengan akun @bebek69, dengan mudah kamu ngetik “dasar goblok” tanpa berpikir dua kali.
2. Gak Kelihatan Mukanya
Di dunia nyata, kalau kamu ngatain orang, kamu langsung liat reaksinya. Muka sedih, mata berkaca-kaca, atau rahang yang mengeras. Otak kamu menerima feedback visual yang bikin kamu mikir ulang: “Wah, keterlaluan gue.”
Di internet, feedback itu gak ada. Kamu ngetik, kamu kirim, kamu scroll lanjut. Dampaknya gak kelihatan. Otak kamu gak dapet sinyal visual buat ngerasa bersalah.
Lapidot-Lefler dan Barak juga nemuin bahwa invisibility, lawannya eye contact, hampir sama kuatnya dengan anonimitas dalam memicu perilaku toxic. Kombinasi keduanya? Ledakan.
3. Gak Ada Konsekuensi Langsung
Kalau kamu ngatain orang di kantin kantor, ada risiko: kamu diomelin balik, dijauhin, atau dipanggil HRD. Tapi kalau kamu ngatain orang di kolom komentar… apa yang terjadi? Paling dibales, paling di-block. Hidup kamu jalan terus.
Ini yang disebut minimization of authority dalam teori Suler. Hirarki sosial, aturan sopan santun, semua terasa lebih longgar karena gak ada institusi yang langsung mengawasi.
Di Indonesia, ini makin terasa karena jarang ada konsekuensi hukum buat komentar pedas di medsos. Selama gak nyentuh SARA atau pencemaran nama baik yang dilaporkan, semuanya aman.
4. Kamu Lupa Manusia di Ujung Layar
Fenomena ini disebut solipsistic introjection, di mana otak kamu secara gak sadar lupa kalo di layar HP yang kamu hadapi itu bukan sekadar teks, tapi manusia beneran dengan perasaan.
Kamu ngeliat komentar: “Ini mah bego banget sih, masa gini aja gak ngerti.”
Kamu gak ngebayangin ada ibu rumah tangga yang baru belajar sesuatu, atau anak SMP yang lagi nanya. Yang kamu rasain cuma: “Ini salah.” Dan kamu rasanya perlu ngomong.
Siapa yang Paling Rentan Jadi Julid?
Riset dari Cheng dan koleganya di Stanford (2017) yang terbit di jurnal Nature dengan judul “Anyone Can Become a Troll” nemu temuan menarik.
Mereka nguji 16.000 partisipan dan menemukan bahwa:
Bukan orang jahat yang jadi troll. Tapi situasi yang menciptakan troll.
Dua faktor yang paling kuat memicu seseorang jadi julid online:
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Suasana hati jelek | Mood negatif bikin orang lebih impulsif nulis komentar pedas |
| Liat komentar toxic orang lain | Perilaku julid itu menular. Satu komentar toxic bisa memicu 10 komentar toxic lain |
Ini menjelaskan kenapa kolom komentar yang awalnya adem, tiba-tiba jadi ajang perang setelah satu akun “pemberani” nulis komentar pedas duluan. Itu efek domino yang udah diteliti.
Riset Oxford Internet Institute (2021) nambahin bahwa mayoritas orang julid karena bosen, bukan karena benci. Nge-scroll HP, liat sesuatu yang sedikit mengganggu, ketik komentar pedas, dapet hiburan instan. Repeat.
Kenapa di Indonesia Terasa Lebih Keras?
Ada beberapa faktor yang bikin fenomena ini makin terasa di Indonesia.
Pertama, budaya kolektivisme yang tinggi. Di satu sisi ini bagus: kita gotong royong, peduli sesama. Tapi di internet, kolektivisme juga bisa berarti: satu orang ngejek, rame-rame ikutan. Itu yang di riset Cheng disebut social contagion of toxicity.
Kedua, jarang ada distribusi sanksi. Di negara seperti Jepang atau Korea Selatan, komentar pedas di medsos bisa berujung ke pengadilan atau setidaknya kecaman publik yang serius. Di Indonesia, sanksi sosial buat komentar julid masih lemah.
Ketiga, platform medsos di Indonesia didominasi oleh model anonim dan semi-anonim. Twitter/X, TikTok, Instagram, semua memberikan ruang buat orang ngomong tanpa harus menunjukkan identitas asli. Sifat echo chamber di media sosial makin memperkuat polarisasi dan membuat komentar kian pedas.
Apa Dampaknya bagi Keluarga?
Fenomena ini juga penting dipahami dalam konteks keluarga. Anak-anak dan remaja yang tumbuh dengan media sosial rentan terpapar efek disinhibisi ini, baik sebagai pelaku maupun korban. Di Indonesia, 1 dari 3 remaja mengalami masalah kesehatan mental, dan lingkungan online yang toxic bisa memperparah kondisinya.
Sebuah studi dari Pew Research Center (2022) menemukan bahwa 45% remaja usia 13-17 tahun pernah mengalami perundungan online, dan sebagian besar terjadi di kolom komentar publik. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari mereka yang tidak melapor ke orang tua karena menganggap “itu sudah biasa.”
Sebagai orang tua, penting untuk:
- Mengajarkan bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan perasaan
- Membahas tentang dampak kata-kata yang kita tulis di internet
- Memberi contoh dengan tidak ikut-ikutan komentar pedas di medsos
- Membuka ruang diskusi jika anak mengalami komentar negatif online
Tapi Berita Baiknya: Kita Bisa Melawan
Kalau efek disinhibisi online disebabkan oleh situasi, bukan kepribadian, artinya situasi juga bisa diubah.
Beberapa platform udah mulai ngelakuin intervensi. Instagram dan Twitter sekarang ngasih warning sebelum orang ngepos komentar yang berpotensi ofensif. Riset dari Cheng et al. (2021) nunjukin bahwa peringatan semacam ini bisa mengurangi komentar toxic hingga 8-10%.
Tapi yang paling penting adalah kesadaran individual: kalo kamu tau kenapa kamu tiba-tiba pengen nulis komentar pedas, kamu bisa mikir ulang.
Sebelum klik Send, tanya ke diri sendiri:
- “Apakah ini bakal gue omongin ke mukanya?”
- “Apakah gue tau dampaknya?”
- “Atau gue cuma bosen?”
Sebab kebanyakan dari kita bukan orang jahat. Kita cuma lagi di situasi yang bikin kita lupa kalo di ujung sana ada manusia lain. Dan internet, dengan segala kehebatannya, kadang memang bikin kita lupa.